Barcode & QR Code

1. Barcode
Barcode adalah susunan garis cetak vertikal hitam putih dengan lebar berbeda untuk menyimpan data-data spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dll sehingga sistem komputer dapat mengidentifikasi dengan mudah, informasi yang dikodekan dalam barcode. Di dalam barcode tersebut terdapat informasi (umumnya berupa angka).

Fungsi Barcode
 Fungsi penggunaan barcode, antara lain :
  • Proses Input Data lebih cepat, karena : Barcode Scanner dapat membaca/merekam data lebih cepat dibandingkan dengan melakukan proses input data secara manual
  • Proses Input Data lebih tepat, karena : Teknologi barcode mempunyai ketepatan yang tinggi dalam pencarian data
  • Penelusuran informasi data lebih akurat karena teknologi barcode mempunyai akurasi dan ketelitian yang sangat tinggi
  • Mengurangi kesalahan pencatatan data dan mengurangi pekerjaan yang dilakukan secara manual secara berulang-ulang
  • Peningkatan Kinerja Manajemen dalam pengambilan keputusan.

Jenis Barcode
Jenis barcode yang sering digunakan:
  1. Code 39, sebagai simbolik yang paling populer di dunia barcode non-retail, dengan variabel digit yang panjang. Namun saat ini code 39 makin sedikit dipergunakan dan digantikan dengan Code 128 yang lebih mudah dibaca oleh pemindai
  2. Universal Product Code (UPC)-A, terdiri dari 12 digit, yaitu 11 digit data, 1 check digit : untuk kebutuhan industri retail
  3. UPC-E, terdiri dari 7 digit, yaitu 6 digit data, 1 check digit : untuk bisnis retail skala kecil
  4. European Articles Numbering (EAN)-8, terdiri dari 8 digit, yaitu 2 digit kode negara, 5 digit data, 1 check digit. EAN-13 atau UPC-A versi Eropa, terdiri dari13 digit, yaitu 12 digit data, 1 check digit
Tipe barcode yang banyak di Indonesia adalah EAN 13, yaitu kode barcode dengan 13 digit. Dimana 3 kode awalnya merupakan kode negara Indonesia (899). Kemudian empat angka berikutnya menunjukkan kode perusahaan. Selanjutnya lima angka secara berturut-turut merupakan kode produk dan angka terakhir berupa validasi atau cek digit.

Sejarah Barcode
Pada tahun 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail. Awalnya, teknologi barcode dikendalikan oleh perusahaan retail, lalu diikuti oleh perusahaan industry. Lalu pada tahun 1948, pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis. Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, lulusan Drexel, bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototype ditolak karena tidak stabil dan mahal.

Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik. Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1952, mereka mendapat hak paten dari hasil penelitian mereka.

1966: Pertama kalinya barcode dipakai secara komersial adalah pada tahun 1970 ketika Logicon Inc. Membuat Universal Grocery Products Identification Standard (UGPIC). Perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan barcode untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Pemakaian di dunia industri pertama kali oleh Plessey Telecommunications. Pada tahun 1972, Toko Kroger di Cincinnati mulai menggunakan bull’s-eye code. Selain itu, sebuah komite dibentuk dalam grocery industry untuk memilih kode standar yang akan digunakan di industry. Pada tanggal 3 April 1973: Komite memilih simbol UPC (Uniform Product Code) sebagai standar industry.

Membuat barcode
Banyak software dan aplikasi barcode yg dijual dipasar, tapi kali ini kita membuat software dari aplikasi freeware. Sudah banyak freeware membuat barcode di dunia maya dan kali ini kita menggunakan aplikasi freeware dari www.morovia.com. Silahkan dicoba.





Membaca barcode
Untuk membaca barcode, kita dapat menggunakan hardware yg sudah dilengkapi dengan software reader barcodenya. Cara lainnya yaitu dengan freeware dari zxing.org.



  • Masukkan url link Barcode yang akan dibaca, atau
  • upload barcodenya
Setelah itu, "submit query" dan tunggu beberapa saat.


 2. QR CODE

QR code, adalah kependekan dari quick response atau dalam bahasa indonesia bisa diartikan respons cepat, code QR ini memiliki kapasitas tinggi dalam pengkodean suatu data, yaitu mampu menyimpan semua jenis data-data seperti text dan SMS, alamat Url, nomor ponsel, dll yang nantinya akan dijadikan semacam sebuah gambar 2 Dimensi.
Sama halnya seperti sebuah barcode. Namun perbedaannya adalah kalau barcode hanya memiliki sebuah informasi di balik garis-garis vertikalnya. Sedangkan QR Code mampu menyimpan secara horizontal ataupun vertikal. Oleh karena itu, QR Code mampu menampung informasi lebih banyak dibandingkan dengan barcode.

Membuat QR
Cara pembuatanya pun sangatlah mudah, tinggal masuk ke site-site penyedia pembuatan code QR seperti delivr.com atau qrcode, masukkan URL, text atau data lainya yang akan dijadikan code QR di kolom yang tersedia setelah itu klik Generate, maka jadilah code QRnya.




atau




Membaca QR
QR code yang sudah kita buat dapat dibaca secara offline dengan menginstall aplikasi tertentu ke pc maupun widget smartphone. untuk membaca QR code secara online dapat kita lakukan dengan menggunakan situs xzing dengan langkah sebagai berikut:



  1. Masukkan url link QR Code yang akan dibaca, atau
  2. upload barcodenya
Setelah itu, "submit query" dan tunggu beberapa saat.

Semoga bermanfaat.


rumahbarcode.com
http://maskabul.blogspot.com




Comments
0 Comments

0 comments :

 
Back to top